Jakarta – Sejumlah aksi demonstrasi bertajuk pembebasan Palestina dan kecaman terhadap genosida oleh Israel berlangsung di berbagai kota besar Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Medan, dan Palembang. Namun, menurut mantan Ketua DPD Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Bangka Belitung, Ayik Heriansyah, isu Palestina bukanlah tujuan utama dari kelompok Hizbut Tahrir.
Dalam sebuah diskusi di Jakarta Selatan, Rabu (5/2/2025), Ayik mengungkapkan bahwa demonstrasi tersebut sebenarnya bertujuan untuk menyosialisasikan ideologi utama mereka, yaitu penegakan sistem Khilafah. Menurutnya, Hizbut Tahrir tidak mengakui konsep negara bangsa (nation-state), termasuk negara Palestina, karena mereka hanya ingin mewujudkan satu pemerintahan global di bawah kepemimpinan seorang Khalifah.
“Bagi mereka, Khilafah adalah solusi dari semua permasalahan dunia, termasuk Palestina. Mereka tidak benar-benar peduli dengan Palestina, tetapi menggunakan isu tersebut sebagai alat mobilisasi massa,†ujar Ayik.
Lebih lanjut, Ayik menjelaskan bahwa Hizbut Tahrir selalu mencari isu yang dapat menggugah emosi publik dan memanfaatkannya untuk membangun narasi anti-pemerintah. “Mereka sengaja menciptakan ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Apa pun isu yang bisa melemahkan legitimasi pemerintah akan mereka manfaatkan,†tambahnya.
Aksi yang digelar pada Minggu, 2 Februari 2025, itu dilakukan serentak di 22 kota di Indonesia, bertepatan dengan peringatan 28 Rajab, tanggal kejatuhan Kekhalifahan Turki Utsmani, serta Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Isu global tentang genosida di Palestina menjadi narasi utama yang digunakan dalam aksi ini, tetapi di baliknya terselip kampanye terselubung untuk mendukung sistem Khilafah.
Pemerintah sebelumnya telah membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) pada 2017, namun kelompok ini terus bergerak tanpa nama resmi, tetap menyebarkan ideologinya melalui berbagai aksi dan propaganda.


COMMENTS