Janji Manis Properti di Bali Berujung Teror: Investor Asing Jadi Korban Penculikan dan Penipuan

HomeNews

Janji Manis Properti di Bali Berujung Teror: Investor Asing Jadi Korban Penculikan dan Penipuan

Tanggapan Imigrasi Denpasar Terkait Viral sopir Banglades Diduga Jemput Tamu di Pelabuhan Sanur
Peringatan 63 Tahun Deklarasi Kemerdekaan West Papua di Denpasar: AMP KK Bali Gelar Aksi Unjuk Rasa
Kasus WNA VS Scurity Finns Beach Club Polda Bali tetapkan 9 Tersangka

Kontroversi.id, BALI — Impian meraih cuan cepat lewat investasi properti di Pulau Dewata berubah menjadi mimpi buruk bagi sejumlah warga asing, terutama asal Rusia. Di balik gemerlap proyek mewah, tersimpan kisah penipuan, penganiayaan, dan dugaan penculikan yang kini ramai diperbincangkan publik, seperti diungkap situs VC.ru.

Awalnya, pada akhir 2023, seorang makelar bernama Anatoly Cheremnykh menggandeng investor asing untuk menanam modal di proyek jual-beli properti jangka pendek di Bali. Proyek tersebut dijalankan oleh PT Industri Vertikal Indonesia (PT IVI), di bawah kendali pasangan suami-istri Aron dan Roxanne Geller.

Proyek perdana bertajuk “Just Residence” sempat menuai sukses. Skema jual beli apartemen dalam 2–4 bulan membuat investor tergiur. Melihat antusiasme tersebut, Geller meluncurkan proyek baru yang lebih besar: pembelian lahan 6,3 hektare di kawasan Pecatu Graha. Ia meminta deposito 500 ribu dolar AS sebagai syarat negosiasi, dengan janji uang akan dikembalikan jika transaksi batal.

Pasangan Geller bahkan mengaku memiliki koneksi dengan lingkaran istana di Indonesia, guna meyakinkan investor. Namun, seiring berjalannya waktu, proyek justru macet. Uang investor mengalir, tapi kejelasan proyek nihil.

Awal 2024, terungkap bahwa Aron Geller — yang ternyata bernama asli Armen Ananyan — meluncurkan proyek baru bertajuk “Karma Residence”. Ia menawarkan skema supermenggiurkan: uang muka ringan, diskon besar, dan tenggat pembayaran satu tahun. Untuk “menghindari pajak”, ia meminta dana dikirim lewat mata uang kripto USDT TRC-20, yang akhirnya mengalir jutaan dolar AS ke dompet digitalnya.

Tak lama kemudian, Geller menuduh direktur keuangan sekaligus rekannya, Nikolai Melnik, kabur membawa uang investor. Setelah itu, Geller lepas tangan, berdalih proyek sudah bukan tanggung jawabnya, dan hanya menawarkan “pengalihan proyek” dengan kompensasi kecil.

Ketegangan memuncak 18 Juli 2024, ketika seorang investor bernama Stanislav dan rekannya mendatangi lokasi proyek Just Residence. Alih-alih bertemu Geller, mereka disergap sekelompok pria bertopeng bersenjata. Kedua korban disiksa, dipaksa mentransfer uang dalam jumlah besar, bahkan diancam akan dibunuh. Salah satu ponsel korban dicuri dan digunakan untuk menguras 223.000 USDT dari dompet kripto.

Stanislav kemudian kembali ke Bali untuk mengupayakan penyelesaian hukum. Geller akhirnya menandatangani dokumen fisik penjualan unit Karma Residence dan tanda terima 500.000 dolar AS. Namun hingga kini, janji pengembalian uang dan penyerahan hak proyek tak pernah ditepati.

Pertemuan terakhir antara korban dan Geller pada Oktober 2024 pun berakhir tanpa hasil. Semua komitmen tinggal janji kosong.

Kini, sejumlah korban melapor ke otoritas hukum Federasi Rusia, sementara nama-nama terlibat mulai diwaspadai komunitas investor internasional. Kasus ini menyoroti celah pengawasan investasi properti di Bali serta risiko tinggi penggunaan kripto dalam transaksi lintas negara.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: